Optimasi Kebutuhan Batubara dalam Pembakaran Batu Gamping Di Desa Cempaka Mekar

Sriyanti Sriyanti, Dudi Nasrudin Usman, Rudi Intan

Abstract


Abstract. PT Damwoo Indo has limestone quality requirements (CaCO3 grades) that will be burned with a minimum of CaCO3 grades by 50%. As for the calcium oxide products produced also have standards from consumers, namely the minimum CaO grades that will be accepted by consumers, which is 80%. The average coal calorific value is 6.294,70 kcal / kg. Products produced from the combustion process have several types, namely: a). gaso, b). jogso, c). miso, and d). saso. Products with gaso and jogso quality will be marketed because they have been burned completely, but for the quality of the miso product will be burned again because the product has not been completely burned. Whereas products with saso quality will be waste and disposed of because the product is overburned. Maximum heating temperature to get quicklime products with CaO grades >80% at the lowest 1.1350C and highest at 1.1700C. The maximum heating temperature was achieved using coal with the lowest heating value of 4.804,13 kcal / kg and the highest was 6.197,52 kcal / kg. From the results of the calculation of coal requirements needed in the limestone combustion process, the percentage of coal needs is an average of 12,26%. This means that it takes 12,26% of coal from calcium oxide products (CaO) produced from the combustion process.

Abstrak. PT Damwoo Indo memiliki syarat kualitas batugamping (kadar CaCO3) yang akan dibakar yaitu minimal kadar CaCO3 sebesar 50%. Sedangkan untuk produk kapur tohor yang dihasilkan juga memiliki standar dari konsumen yaitu kadar CaO minimal yang akan diterima oleh konsumen yaitu sebesar 80%. Nilai kalor batubara rata-rata adalah sebesar 6.294,70 kkal/kg. Produk yang dihasilkan dari proses pembakaran memiliki beberapa jenis yaitu : a). gaso, b). jogso, c). miso, dan d). saso. Produk dengan kualitas gaso dan jogso akan dipasarkan karena sudah terbakar secara sempurna, namun untuk kualitas produk miso akan dilakukan pembakaran kembali dikarenakan produk belum terbakar sempurna. Sedangkan untuk produk dengan kualitas saso akan menjadi limbah dan dibuang dikarenakan produk tersebut overburned. Suhu pemanasan maksimal untuk mendapatkan produk kapur tohor dengan kadar CaO >80% paling rendah 1.1350C dan paling tinggi 1.1700C. Suhu pemanasan maksimal dicapai menggunakan batubara dengan nilai kalor paling rendah 4.804,13 kkal/kg dan paling tinggi 6.197,52 kkal/kg. Dari hasil perhitungan kebutuhan batubara yang dibutuhkan dalam proses pembakaran batugamping, diperoleh persentase kebutuhan batubara rata-rata sebesar 12,26%. Hal tersebut berarti dibutuhkan 12,26% batubara dari produk kapur tohor (CaO) yang dihasilkan dari proses pembakaran.

 


Keywords


Batu Gamping, Pemurnian, Kiln, Kebutuhan Batubara, Suhu Pemanasan, Kapur Tohor.

Full Text:

PDF

References


Aziz, Muchtar. 2010. Batu Kapur dan Peningkatan Nilai Tambah Serta Spesifikasi Untuk Industri. Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 06 Nomor 3 Bulan Juli 2010 Hal 116-131 : Bandung.

Badan Pusat Statistik (BPS). 2017. Kabupaten Bandung Barat Dalam Angka. 978-602-710-841-7. Kabupaten Bandung Barat : Badan Pusat Statistik Kabupaten Bandung Barat.




DOI: https://doi.org/10.29313/ethos.v7i2.4583

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Alamat Redaksi:

P2U LPPM Unisba, Lantai 2, Jl. Purnawarman 63, Bandung 40116, Jawa Barat, (022) 4203368 , (022) 4264064. ethos.unisba@gmail.com / ethos@unisba.ac.id

 

 

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License