Perempuan-Perempuan Pekerja Seks Komersial Yang Terkomodifikasi

Elva Ronaning Roem

Abstract


Tulisan ini merupakan sebuah penelitian, yang menceritakan tentang Perempuan-perempuan perantau yang semakin terseksualisasi dan terkomodifikasi akibat tuntutan hidup dan faktor ekonomi yang sulit. Gaya hidup dan tuntutan ekonomi yang tinggi, membuat Perempuan-perempuan Perantau yang tidak punya bekal pendidikan ilmu yang tinggi, ingin mendapatkan penghidupan yang layak, yang ingin hidup seperti manusia kalangan kelas-kelas kaya yang keasyikan dengan seks dan konsumerisme sehingga mengaburkan perbedaan-perbedaan  antara  yang “Lurus” dengan yang “sesat”, dan semuanya saling dipengaruhi oleh suatu kebenaran yang berdasarkan pada citra dan penampilan. Perubahan-perubahan ini mendatangkan akibat yang kontradiktif  bagi perempuan-perempuan penjaja seks komersial kelas bawah dan sikap mereka. Pada akhirnya mereka menjadi perempuan-perempuan yang terkomodifikasi dan harus bertarung melawan kehidupan dalam sebuah perjuangan yakni “Garis Hidup”.

Tidak lah mudah bagi Para Perantau-perantau yang notabene Kaum hawa ini memutuskan nasib untuk bekerja sebagai wanita malam disebuah lokalisasi yang bernama “Taleju” yang berada di wilayah Pekanbaru-Riau. Mereka bekerja untuk membantu kelangsungan hidup kolektif mereka di kota. Sebenarnya tempat tinggal mereka di Pulau Jawa, bila dilihat dari faktor ekonomi jauh lebih memberikan keuntungan dari di kota Pekanbaru, yang tidak termasuk kedalam kategori kota Metropolitan, namun bagi wanita penjaja seks komersial ini, Jauh dari keluarga justru lebih baik dan mendatangkan keuntungan yang besar setiap bulannya.

Rutinitas  pelacur swa-kerja yang dimulai dari pagi hingga malam hari ini dibentuk berdasarkan tradisi atau diatur oleh majikan (mucikari). Perempuan-perempuan dari mulai gadis belia hingga wanita dewasa dan paruh baya bekerja menjadi seorang yang materialis. Mereka bekerja sebagai penjaja seks komersial, mirip dengan perempuan pedagang jalanan, dalam hal ini mereka individualistis pada titik ekstrinsitas, menyandarkan diri pada kepandaian dan humor dalam ciri perdagangan mereka yang ganjil.

Para penjaja Seks Komersial ini diperlakukan sebagai barang dagangan dan direndahkan sebagai orang penyimpang amoral atau patologis, tetapi dari pengalaman sebenarnya mereka melakukan pilihan yang rasional dalam menanggani aspek ekonomi mereka, seperti hanya bisa menjual tubuh mereka sebagai barang dagangan mengeksploitasi sistem kapitalis untuk tujuan-tujuan mereka sendiri. Uang yang diperoleh memungkinkan mereka untuk memuaskan aspirasi-aspirasi konsumeris yang tidak dapat mereka penuhi dengan cara lain, sementara kesempatan mereka untuk “berhasil” selalu genting, mereka menjual diri untuk ikut berkongsi dengan sistem yang ada dalam memacu garis hidup yang kurang sempurna.


Full Text:

PDF

References


Allens, S, Gender Inequelity and Class Formation, University Press, 1982.

--------------1997. Pemahaman Adaptasi Masyarakat Transmigran: Pendekatan Antropologi Ekologi. Dalam Prisma No.7 Jakarta LP3ES.

Bogdan, Robert C. and Biklen. 1982. Qualitative Research For Education: An Introduction to Theory and Method, Boston: Allyn and Bacon Inc.

Bennet, John W, 1982, Of time And Enterprise North American Famaly Farm Management in A Context of Resource Marginality, Minneapolis, University of Minneesota, Press.

Bujra. 2007. Perkembangan Permukiman Pekerja Seks Komersial Di Perkotaan: Studi Tentang Dampak Perkembangan Pekerja Permukiman Seks Komersi Terhadap Kehidupan Sosial Keagamaan Provinsi Riau. Pekanbaru, Grafika Persada Pers.

Charon, Joel M. Syimbolic Interactionism. Prentice Hall Inc. Englewood Cliffs, N.J. 1979

Effendy, Onong Ucjhana. 1997. Ilmu Komunikasi:Teori dan Praktek, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Fisher, B. Aubrey dan Ketherine L. Adams. 1994. Interpersonal Communication: Pragmatics Of Human Communication. Edisi ke-2, New York.

Griffin, Emory A. 2004. A First Look At Communication Theory. New York: McGraw-Hill

Hurmain, Imam, 2005. Interaksi Sosial Pekerja Seks Komersial di Kota Pekanbaru dalam Konteks Agama Islam, Pekanbaru, Grafika Persada Pers

Irawan, Prasetya, 2004. Logika dan Prosedur Penelitian, Jakarta, STIA-LAN Press.

Littlejohn,Stephen,W. 2004. Theories of Human Communication. New York, USA, Artists Right Society (ARS)

Cohen, M, The Urban Street Foodss Trade: Implication For Policy, Washington DC. 1983.

Kartini Kartono, Pathologi Sosial 1, Jakarta: CV Rajawali, 1981.

Jean bauddrillard, In The Shadows Of the Silent Majorities, New York:Semiotext, 1983.

Thahjo Purnomo dan Ashadi Siregar, Analisis Tentang Komplek Dolly, Jakarta: grafity Pers,1983

Surat kabar terbitan berkala:

Riau Pos, edisi Maret, April,juni 2008

Femina, edisi Juni 2008

Kompas, edisi, februari, Mei, Juli 2008.




DOI: https://doi.org/10.29313/.v1i1.3730

Refbacks

  • There are currently no refbacks.