RESILIENSI KELUARGA YANG MEMILIKI ANAK TUNANETRA

Aisyah Uswatunnisa, Alabanyo Brebahama, Melok Roro Kinanthi

Abstract


Tunanetra menempati urutan pertama penyandang disabilitas di Indonesia. Anak yang mengalami ketunanetraan seringkali mengalami hambatan-hambatan dalam perkembangan maupun pendidikannya. Keluarga juga dapat mengalami dampak dari ketunanetraan yang dialami anak. Kondisi ini dapat menjadi masa krisis bagi keluarga. Namun, ada keluarga yang tetap resilien dan bangkit setelah mengalami masa krisis. Penelitian ini bertujuan untuk melihat tingkat resiliensi keluarga pada keluarga yang memiliki anak tunanetra. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling. Sampel dalam penelitian ini adalah 37 ibu yang berdomisili di DKI Jakarta dan daerah penyangga ibu kota (Tangerang, Bekasi, dan Depok) yang memiliki anak tunanetra dengan usia anak 0-20 tahun. Penelitian ini menggunakan alat ukur Walsh Family Resilience Questionnaire yang telah ditranslasi ke dalam bahasa Indonesia. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis statistik deskriptif terhadap skor dari resiliensi keluarga. Hasil dari analisis didapatkan bahwa tingkat resiliensi keluarga berada dalam kategori tinggi.


Keywords


Resiliensi Keluarga, Tunanetra, orangtua

References


Anderson, L., Larson, S., Lakin, C., & Kwak, N. (2002). Children with disabilities: Social roles and family impacts in the NHIS-D. DD Data Brief, 4(1), 1-11.

Bambara, J. K., Wadley, V., Owsley, C., Martin, R. C., Porter, C., & Dreer, L. E. (2009). Family functioning and low vision: A systematic review. Journal of Visual Impairment & Blindness, 103(3): 137-149.

Bergeron, C. M., & Wanet-Defalque, M. (2012). Psychological adaptation to visual impairment: The traditional grief process revised. The British Journal of Visual Impairment 31(1): 20-31.

de Klerk, H., & Greeff, A. P. (2011). Resilience in parents of young adults with visual impairments. Journal of Visual Impairment & Blindness, 105(7): 414 – 424.

Ferguson, P. M. (2002). A place in the family: An historical interpretation of research on parental reactionsto having a child with a disability. The Journal of Special Education, 36, 124-130.

Greeff, A. P., & van der Walt, K. (2010). Resilience in families with an autistic child. Education and Training in Autism and Developmental Disabilities, 45(3): 347-355.

Greeff, A. P., Vansteenwegen, A., & Gillard, J. (2012). Resilience in families living with a child with a physical disability. Rehabilitation Nursing 37(3): 97-104.

Hallahan, D. P., Kauffman, J. M., & Pullen, P. C. (2009). Exceptional Learners: An Introduction to Special Education 11th ed.. USA: Pearson Education, Inc.

Kalil, A. (2003). Family Resilience and Good Child Outcomes A Review of the Literature. New Zealand: Centre for Social Research and Evaluation, Ministry of Social Development.

Kresna. (2015). Slamet, Siswa Tunanetra Berprestasi Hidup Tragis Tapi Tetap Semangat Sekolah. Diakses pada tanggal 12 September 2017, dari http://news.detik.com/berita/2914012/slamet-siswa-tunanetra-berprestasi-hidup-tragis-tapi-tetap-semangat-sekolah.

Leyser, Y., Heinze, A., & Kapperman, G. (1996). Stress and adaptation in families of children with visual disabilities. Families in Society 77(4): 240 – 249.

Mangunsong, F. (2014). Psikologi dan Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus Jilid Kesatu. Depok: Lembaga Pengembangan Sarana Pengukuran dan Pendidikan Psikologi (LPSP3).

Maulidia, F. N. (2016). Peran family sense of coherence terhadap family resilience pada keluarga yang memiliki anak dengan spectrum autistic dari perspektif ibu serta tinjauannya dalam Islam. Skripsi. Universitas YARSI, DKI Jakarta.

Muslim, AR. (2016). Bocah Tunanetra di Tambora Ini Dianiaya dan Ditelantarkan Ibunya. Diakses pada tanggal 6 Agustus 2017, dari http://news.liputan6.com/read/2618894/bocah-tunanetra-di-tambora-ini-dianiaya-dan-ditelantarkan-ibunya.

Nisfiannoor, M. (2009). Pendekatan Statistika Modern untuk Ilmu Sosial. Jakarta: Salemba Humanika.

Putri, I. (2015). Stereotipe Negatif Terhadap Difabel Masih Melekat di Budaya Masyarakat. Diakses pada tanggal 27 April 2016, dari http://solider.or.id/2015/12/23/stereotipe-negatif-terhadap-difabel-masih-melekat-di-budaya-masyarakat.

Simon, J. B., Murphy, J. J., & Smith, S. M. (2005). Understanding and fostering family resilience. The Family Journal: Counseling and Therapy for Couples and Families 13(4): 427-436. DOI: 10.1177/1066480705278724.

Simpson, G., & Jones, K. (2012). How important is resilience among family members supporting relatives with traumatic brain injury or spinal cord injury. Clinical Rehabilitation 27(4):367 – 377.

Virlia, S., & Wijaya, A. (2015). Penerimaan diri pada penyandang tunadaksa. Seminar Psikologi & Kemanusiaan: 372-377.

Walsh, F. (1998). Strengthening Family Resilience. New York: Guilford.

Walsh, F. (2002). A family resilience framework: Innovative practice applications. Family Relations, 51(2), 130-137.

Walsh, F. (2006). Strengthening Family Resilience. New York: The Guilford Press.

Walsh, F. (2012). Normal Family Processes 4th ed. pp. (399-427). New York: Guilford Press.

Wandasari, W. (2012). Hubungan antara resiliensi keluarga dan family sense of coherence pada mahasiswa yang berasal dari keluarga miskin. Skripsi. Universitas Indonesia, Depok.




DOI: https://doi.org/10.29313/schema.v4i1.3389

Refbacks

  • There are currently no refbacks.