Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Merokok pada Remaja Kampung Bojong Rawalele, Jatimakmur, Bekasi

Erlina Wijayanti, Citra Dewi, Rifqatussa'adah Rifqatussa'adah

Abstract


Salah satu perilaku berisiko yang memiliki prevalensi tinggi di usia remaja adalah merokok, sedangkan seseorang yang merokok pada usia lebih muda akan lebih sulit berhenti dibanding dengan yang mulai merokok pada usia lebih tua. Tujuan penelitian ini mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku merokok pada remaja. Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian deskriptif dengan desain cross-sectional. Penelitian dilakukan di Kampung Bojong Rawalele, Pondok Gede, Bekasi, Jawa Barat periode Januari–Februari 2017. Populasi penelitian adalah remaja di kampung tersebut. Subjek penelitian adalah individu usia 10–19 tahun. Sampel yang diambil sebanyak 94 responden dengan teknik snowball sampling. Remaja yang terlibat berpendidikan belum tamat SD sampai sudah tamat SMA. Di antara 19 remaja perokok (20%), merokok rata-rata sebanyak 5–6 batang per hari dan sudah merokok rata-rata selama 2–3 tahun. Sebagian besar (95%) perokok tersebut ingin berhenti merokok. Analisis bivariat menunjukkan bahwa jenis kelamin, usia, pengalaman, pengetahuan, dan sikap berhubungan signifikan dengan perilaku merokok (p<0,05). Pendidikan tidak berhubungan dengan perilaku merokok (p≥0,05). Simpulan, prediktor perilaku merokok pada remaja di Kampung Bojong Rawalele adalah jenis kelamin, usia, pengalaman, pengetahuan, dan sikap. Disarankan kepada orangtua maupun sekolah untuk memperhatikan kelompok berisiko merokok pada remaja.


FACTORS ASSOCIATED WITH TEENAGER’S SMOKING BEHAVIOR AT BOJONG RAWALELE, JATIMAKMUR, BEKASI

One among risky behaviors of teenager was smoking. Someone who smoked at younger age would be more difficult to stop than who started smoking at an older age. The purpose of this study was to identify factors associated with smoking behavior in teenagers. This is a cross-sectional study on 94 teenagers 10 to 19 years old using snowball sampling technique. The study conducted from January to February 2017 at Bojong Rawalele, Pondok Gede, Bekasi, West Java. Results showed respondents have primary school to senior high school education. Among 19 smokers, ciggaretes were consumed 5–6 stems per day and they had smoked for 2–3 years on average. Most of the smokers wanted to stop smoking (95%). The bivariate analysis showed that gender, age, experience, knowledge, and attitude significantly associated with smoking behavior (p<0.05). However, education was not associated with smoking behavior (p≥0.05). In conclusion, the predictors of smoking behavior were gender, age, experience, knowledge, and attitude. It was suggested to parents and schools to pay attention to risky groups on smoking behavior.


Keywords


Attitude; merokok; perilaku; remaja; smoking; teenagers

References


Isfandari S, Lolong DB. Analisa faktor risiko dan status kesehatan remaja Indonesia pada dekade mendatang. Bul Penelit Kesehat. 2014;42(2):122–30.

Sawyer SM, Afifi RA, Bearinger LH, Blakemore SJ, Dick B, Ezeh AC, dkk. Adolescence: a foundation for future health. Lancet. 2012;379(9826):1630–40.

Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Riset kesehatan dasar (Riskesdas) 2007. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Depkes RI; 2008.

Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Riset kesehatan dasar (Riskesdas) 2010. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kemenkes RI; 2010.

Kendler KS, Myers J, Damaj MI, Chen X. Early smoking onset and risk for subsequent nicotine dependence: a monozygotic co-twin control study. Am J Psychiatry. 2013;170(4):408–13.

Wahyuni D, Rahmadewi. Kajian profil penduduk remaja (10–24 thn): ada apa dengan remaja? Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Kependudukan, BKKBN; 2011.

Kholid A. Promosi kesehatan dengan pendekatan teori perilaku, media, dan aplikasinya. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada; 2014.

Macy JT, Chassin L, Presson CC. Smoking behaviors and attitudes during adolescence prospectively predict support for tobacco control policies in adulthood. Nicotine Tob Res. 2012;14(7):871–9.

Notoatmodjo S. Promosi kesehatan dan ilmu perilaku. Jakarta: Rineka Cipta; 2007.

Istiyorini H. Hubungan tingkat pengetahuan tentang bahaya merokok dengan sikap siswa terhadap bahaya merokok di SMK YPKK 3 Sleman Yogyakarta. Jurnal Ilmiah Permata Medika. 2013;2(2):22–9.

Maseda DR, Suba B, Wongkar D. Hubungan pengetahuan dan sikap tentang bahaya merokok dengan perilaku merokok pada remaja putra di SMA Negeri 1 Tompasobaru. eKp. 2013;1(1):1–7.

Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Riset kesehatan dasar (Riskesdas) 2013. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kemenkes RI; 2013.

Amos A, Angus K, Bostock Y, Fidler J,Hastings G. A review of young people and smoking in England: final report. Edinburgh, Scotland: Public Health Research Consortium; 2009.

Azwar S. Sikap manusia: teori dan pengukurannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar; 2003.

Komasari D, Helmi AF. Faktor-faktor penyebab perilaku merokok pada remaja. JPSI. 2000;27(1):37–47.

Brigham CJ. Social psychology. Edisi ke-2. New York: Harper Collins Publisher, Inc; 1991.

Alamsyah RM. Faktor yang mempengaruhi kebiasaan merokok dan hubungannya dengan status penyakit periodontal remaja di Kota Medan (tesis). Medan: Sekolah Pascasarjana, Universitas Sumatera Utara; 2009.

Mayzufli A, Respati T, Budiman. Pengetahuan, sikap, dan perilaku mengenai kesehatan reproduksi siswa SMA swasta dan madrasah alliyah. GMHC. 2013;1(2):46–51.




DOI: https://doi.org/10.29313/gmhc.v5i3.2298

Refbacks

  • There are currently no refbacks.



pISSN 2301-9123 | eISSN 2460-5441

Visitor since 19 October 2016:

View My Stats

Free counters!

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.