The Peer Counseling Model in Adolescents Reproductive Health for Senior High School Students

Indah Nurfazriah, Deni Kurniadi Sunjaya, Susi Susanah

Abstract


Premarital sexual behavior in adolescents is at risk of sexual intercourse. One of the teenagers' factors in premarital sexual intercourse is a lack of knowledge about adolescent reproductive health. One method that can be given to increase knowledge about reproductive health is peer counseling. Peer counseling service improvement can be supported by the availability of modules or teaching materials to be used as a guide for peer counselors. The purpose of this study was to analyze the substance of the peer counseling module, analyze the perspective of the prospective module user on the development of peer counseling modules, and develop a model of the peer counseling module. The design of this study was the concurrent mixed method was divided into two stages, namely in-depth interviews with the experts and interviews and surveying with module users. The data was collected from the senior high school students in Cimahi and Bandung, West Java from March to July 2017. The result of this study showed that the substances developed in this module were the adolescents’ reproductive health, adolescents’ preparation in family planning, and adolescents’ ethics. Based on results of the analysis using the Rasch model, in the module user’s perspective, there is a need for the development of peer counseling modules. Evaluation of the module’s model from participants showed that they mostly agreed with the module’s model and the substances that were developed.

 

MODEL MODUL KONSELING SEBAYA DALAM KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA PADA SISWA SEKOLAH MENENGAH ATAS

Perilaku seksual pranikah pada remaja berisiko melakukan hubungan seksual. Salah satu faktor remaja melakukan hubungan seksual pranikah adalah pengetahuan tentang kesehatan reproduksi remaja yang kurang. Salah satu metode yang dapat diberikan untuk meningkatkan pengetahuan tentang kesehatan reproduksi adalah konseling sebaya. Peningkatan pelayanan konseling sebaya dapat ditunjang oleh ketersediaan modul atau bahan ajar sebagai panduan bagi konselor sebaya. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis substansi modul konseling sebaya, menganalisis perspektif pengguna modul tentang pengembangan modul konseling sebaya, dan mengembangkan model modul konseling sebaya. Desain penelitian yang digunakan concurrent mixed methods  yang dibagi menjadi dua tahap, yaitu wawancara mendalam dengan para pakar serta wawancara dan survei dengan pengguna modul. Data dikumpulkan dari siswa SMA di Cimahi dan Bandung, Jawa Barat mulai Maret hingga Juli 2017. Hasil penelitian menunjukkan bahwa substansi yang perlu dikembangkan dalam modul konseling sebaya adalah kesehatan reproduksi remaja, persiapan remaja dalam perencanaan keluarga, dan etika remaja. Berdasar atas hasil analisis menggunakan model Rasch, perspektif dari para pengguna modul adalah perlu pengembangan modul konseling sebaya. Evaluasi model modul dari partisipan menunjukkan bahwa kebanyakan mereka setuju dengan model modul dan substansi modul yang dikembangkan.


Keywords


Adolescent; kesehatan reproduksi; konseling sebaya; peer counseling; remaja; reproductive health

Full Text:

PDF

References


Helset S, Misvaer N. Adolescents’ perceptions of quality of life: what it is and what matters. J Clin Nurs. 2010;19(9–10):1454–61.

Notoatmodjo S. Kesehatan dan pembangunan sumber daya manusia. KESMAS. 2008;2(2):195–9.

World Health Organization (WHO). Health for the world's adolescents: a second chance in the second decade. Geneva: WHO Press; 2014.

Hidayangsih SP. Perilaku berisiko dan permasalahan kesehatan reproduksi pada remaja. Kespro. 2014;5(2):89–101.

Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Situasi kesehatan reproduksi remaja. 29 Juni 2015 [cited 2017 July 30]. Available from: http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/infodatin/infodatin%20reproduksi%20remaja-ed.pdf.

United Nations International Children's Emergency Fund (UNICEF) Indonesia. Ringkasan kajian: respon terhadap HIV & AIDS. Oktober 2012 [cited 2017 July 30]. Available from: https://www.unicef.org/indonesia/id/A4_-_B_Ringkasan_Kajian_HIV.pdf.

Handayani S. Faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian kehamilan tidak diinginkan pada remaja di Kelurahan Balecatur Ggamping Sleman Yogyakarta. JKSI. 2016;7(1):37–43.

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional. Laporan kinerja instansi pemerintah 2015: Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional. 2016 [cited 2017 August 1]. Available from: https://www.bkkbn.go.id/po-content/uploads/LAKIP_BKKBN_2016.pdf.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Profil kesehatan indonesia 2014. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia; 2015.

Susanti HA. Strategi komunikasi Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). J ASPIKOM. 2015;2(2): 243–54.

Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung Barat. Artikel kesehatan reproduksi. Maret 27, 2015 [cited 2017 July 29]. Available from: http://dinkes.bandungbaratkab.go.id/artikel-kesehatan-reproduksi/.

Direktorat Bina Ketahanan Remaja Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional. Pedoman pengelolaan bina keluarga remaja (BKR). Jakarta: Direktorat Bina Ketahanan Remaja Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional; 2012.

Knowledge for Health (K4Health). Pusat informasi dan konseling kesehatan reproduksi remaja (PIK-KRR) [cited 2017 July 31]. Available from: https://www.k4health.org/sites/default/files/Bagian_II_Program_Pemerintah_PIK-KRR.pdf.

Generasi Berencana (GenRe) Indonesia. BKR (bina keluarga remaja): latar belakang [cited 2017 July 31]. Available from: http://www.genreindonesia.com/bina-keluarga-remaja.

Rahmawati AH. Peningkatan keterampilan konseling konselor sebaya Pusat Informasi dan Konseling Remaja MAN Yogyakarta 1. JRMBK. 2016;5(4):1–12.

Harini R, Rahmat I, Nisman WA. Upaya peningkatan keterampilan konseling kesehatan reproduksi mahasiswa melalui pelatihan konselor sebaya. J Ners. 2014;9(2):173–82.

Permatasari D. Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konselor sebaya dalam implementasi konseling kesehatan reproduksi remaja di Kabupaten Sumenep. Wiraraja Medika. 2013;3(2):82–7.

Direktorat Bina Ketahanan Remaja Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional. Kurikulum diklat teknis pengelolaan PIK remaja/mahasiswa bagi pengelola, pendidik sebaya dan konselor sebaya PIK remaja/mahasiswa. 4th Print. Jakarta: Direktorat Bina Ketahanan Remaja Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional; 2013.

Satari MH, Wirakusumah FF. Konsistensi penelitian dalam bidang kesehatan. Bandung: Refika Aditama; 2011.

Sumintono B, Widhiarso W. Aplikasi model Rasch untuk penelitian ilmu-ilmu sosial. Revised Edition. Cimahi: Trim Komunikata Publishing House; 2014.

Peraturan Kepala Lembaga Administrasi Negara Nomor 5 Tahun 2009 tentang Pedoman Penulisan Modul Pendidikan dan Pelatihan.

Andriani P. Peran pusat informasi dan konseling (PIK-KRR) terhadap perilaku seksual berisiko pada SMPN terpilih di Jakarta Selatan tahun 2016. SEAJoM. 2016;2(1):13–23.




DOI: https://doi.org/10.29313/gmhc.v6i3.3108


pISSN 2301-9123 | eISSN 2460-5441

Visitor since 19 October 2016:

View My Stats

Free counters!

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.