Factors Affecting the Incidence of Filariasis in Welamosa Village Ende District East Nusa Tenggara

Irfan Irfan, Norma Tiku Kambuno, Israfil Israfil

Abstract


Filariasis is a chronic communicable disease caused by filarial worms, which consists of three species: Wucherria bancrofti, Brugaria malayi, and Brugaria timori. This disease is transmitted through mosquito bites, infects lymph tissue (lymph) and causes swelling of the legs, breasts, arms and genital organs. Welamosa village, Ende district, located in East Nusa Tenggara (NTT) province is reported as one of the highest cases of 40 cases in 2015. This research aims to analyze the influence of social factor of demography and socio-cultural environment factor to elephantiasis incident in Welamosa village, Ende district. The type of research is observational analytic with case-control with 49 people as sampling. The research instrument used questionnaire and checklist. The data analysis used a statistical test of the SPSS program with Logistic Backward Regression Logistic test. The results showed five variables as risk factors of elephantiasis occurrence, age (OR=42.518), education (OR=38.248), occupation (OR=8.404), outdoor activity at night (OR=5.097) and sex (OR=0.193).

 

FAKTOR YANG MEMENGARUHI KEJADIAN PENYAKIT FILARIASIS DI DESA WELAMOSA KABUPATEN ENDE NUSA TENGGARA TIMUR

Filariasis adalah penyakit menular menahun yang disebabkan oleh parasit berupa cacing filaria yang terdiri dari tiga spesies yaitu, Wucherria bancrofti, Brugaria malayi, dan Brugaria timori. Penyakit ini menginfeksi jaringan limfe (getah bening) dan menular melalui gigitan  nyamuk, dan menyebabkan pembengkakan kaki, tungkai, payudara, lengan dan organ genital. Kecamatan Welamosa Kabupaten Ende, terletak di Provinsi NTT dilaporkan sebagai salah satu kecamatan dengan kasus tertinggi yakni 40 kasus pada tahun 2015. Tujuan penelitian adalah menganalisis pengaruh faktor sosial demografi dan  faktor lingkungan sosial budaya terhadap kejadian filariasis di Welamosa, Ende. Jenis penelitian adalah analitik observasional dimana pengambilan sampel menggunakan case control sebanyak 49 orang. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner dan check list. Analisis data menggunakan uji statistik  program SPSS dengan uji Regresi Logistik Metode Backward. Hasil penelitian menunjukkan lima variabel yang merupakan faktor risiko kejadian filariasis, yaitu  usia (OR=42,518), pendidikan (OR=38,248), pekerjaan (OR=8,404), aktivitas di luar rumah pada malam hari (OR=5,097), dan jenis kelamin (OR=0,193). 


Keywords


Ende district; Filariasis; Kabupaten Ende; Welamosa

References


Pusdatin. Situasi Filariasis di Indonesia Tahun 2015 [Internet]. 2016. p. 8. Available from: www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/.../Infodatin-Filariasis-2016.pdf

Kementerian Kesehatan RI. Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI- Filariasis; Oktober Bulan Eliminasi Kaki Gajah (BELKAGA) [Internet]. 2016. 2016. p. 1–8. Available from: www.depkes.go.id/download.php?file=download/-pusdatin/infodatin/...filariasis.pdf

Departeman Kesehatan Republik Indonesia. Profil Kesehatan Indonesia [Internet]. 2016. Available from: www.depkes.go.id/.../profil-kesehatanindonesia-/Profil-Kesehatan-Indonesia-2016.pdf

NTT DP. Profil Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur. 2015;1–146. Available from: www.depkes.go.id/resources/download/profil/PROFIL_KES.../19_NTT-_2015.pdf

Dinkes Ende. Profil kesehatan kabupaten ende tahun 2014. 2014;23. Available from: www.depkes.go.id/resources/.../profil/PROFIL.../5311_NTT_Kab_Ende_-2014.pdf.

Purwantyastuti. Pemberian Obat Massal Pencegahan (POMP) Filariasis. Bul Jendela Epidemiol. 2010;1(1):15–9.

Faridah L, Lavemita C, Sumardi U, Fauziah N, Agustian D. Upaya Pengendalian Aedes aegypti di Desa Cibeusi dan Cikeruh Kecamatan Jatinangor berdasar atas Populasi Nyamuk Assessment of Aedes aegypti Control Efforts in Cibeusi and Cikeruh Villages Jatinangor Sub-district based on the Population of Mosquito. GMHC. 2018;6(April):42–8.

Garjito T, Jastal, Rosmini, Anastasia H, Y S, Labatjo Y. Filariasis Dan Beberapa Faktor Yang Berhubungan Dengan Penularannya Di Desa Pangku Tolole Kecamatan Ampibabo Kabupaten Parigi Moutong Propinsi Sulawesi Tengah. J Vektora. 2013;V(2):54–65.

Riftiana, Nola, Soeyoko. Hubungan Sosiodemografi Dengan Kejadian Filariasis Di Kabupaten Pekalongan. Kes Mas UAD. 2010;4(1):59–65.

Afra D, Harminarti N. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Filariasis di Kabupaten Padang Pariaman Tahun 2010-2013. J Kesehat Andalas. 2016;5(1):111–9.

Santoso, Sitorus H, Oktarina R. Faktor Resiko Filariasis Di Kabupaten Muaro Jambi. Bul Penelit Kesehat. 2013;41(3):152–62.

Arsin Arsunan A. Epidemiologi filariasis di Indonesia. Pertama, 2. Makassar: Masagena Press Makassar; 2013. 1-126 p.

Amelia R. Analisis Faktor Resiko Kejadian Penyakit Filariasis. Unnes J Public Heal [Internet]. 2014;3(1):6–10. Available from: http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/ujhp

Syuhada Y et al. Studi Kondisi Lingkungan Rumah dan Perilaku Masyarakat Sebagai Faktor Risiko Kejadian Filariasis di Kecamatan Buaran dan Tirto Kabupaten Pekalongan. J Kesehat Lingkung [Internet]. 2012;11(1):95–101. Available from: http://ejournal.undip.ac.id/index.php/jkli/article/view/4147

Ike Ani Windiastuti, Suhartono NA. Hubungan Kondisi Lingkungan Rumah , Sosial Ekonomi , dan Perilaku Masyarakat dengan Kejadian Filariasis di Kecamatan Pekalongan Selatan Kota Pekalongan The Association between Environmental House Condistion , Socio-economic , and Behaviour Factors with fi. J Kesehat Lingkung Indones. 2013;12(1):51–7.

Uloli, Soeyoko, Sumarni Reyke. Analisis Faktor–Faktor Risiko Kejadian Filariasis. J Ber Kedokt Masy [Internet]. 2008;24(1):44. Available from: http://www.berita-kedokteran-masyarakat.org/index.php/BKM/article/view/132/57.




DOI: https://doi.org/10.29313/gmhc.v6i2.3208

Refbacks

  • There are currently no refbacks.



pISSN 2301-9123 | eISSN 2460-5441

Visitor since 19 October 2016:

View My Stats

Free counters!

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.