Perilaku Orang Tua Siswa Sekolah Dasar Sigaranten Sukabumi dalam Penanganan Infestasi Kutu Kepala

Ratna Dewi Indi Astuti

Sari


Anak-anak usia sekolah dasar masih banyak yang terinfestasi kutu kepala (Pediculosis capitis) saat ini. Infestasi kutu kepala ini menimbulkan rasa gatal yang dapat berkembang menjadi infeksi sekunder dan gangguan tidur, belajar maupun social. Beragam usaha pengobatan dilakukan di masyarakat dan hingga saat ini belum ada pedoman tetap dalam menangani infestasi kutu kepala. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perilaku masyarakat dalam menangani infestasi kutu kepala dan hasil perilaku tersebut yang dilihat dari angka kejadian infestasi kutu kepala.

Penyebaran kuesioner mengenai perilaku pengobatan infestasi kutu kepala pada masyarakat dilakukan pada 69 orang tua siswa kelas 5 Sekolah Dasar Negeri Sigaranten Sukabumi pada bulan Juni 2018. Kejadian infestasi kutu kepala pada siswa didapatkan dengan pemeriksaan rambut dan kulit kepala selama 5 menit setelah mendapat persetujuan orang tua siswa.

Pada penelitian ini didapatkan 38 siswa yang terinfestasi kutu kepala (55%). Sebagian besar orang tua melakukan pengobatan infestasi kutu kepala pada anaknya dengan cara menyerit (63,7%). Tidak ada perbedaan bermakna antara perilaku penanganan infestasi dengan menyerit, menggunakan obat kutu dan pengambilan kutu manual terhadap kejadian infestasi kutu kepala pada siswa (p=0.054).

Perilaku pengobatan kutu kepala oleh orang tua pada anaknya sebagian besar belum efektif karena 55% siswa masih terinfestasi kutu kepala

 


Kata Kunci


infestasi, kutu kepala, penanganan, perilaku

Referensi


CDC. Head lice [internet]. Atlanta USA: CDC.2013. [diperbaharui 24 September 2013; disitasi 16 April 2019]. Tersedia dari : https://www.cdc.gov/parasites/lice/head/epi.html

Canyon DV, Canyon C, Milani S. Parental and child attitudes towards pediculosis are a major of reinfection. The Open Dermatology Journal.2014 April; 8:24-8.

Zulinda A, Yolazenia, Zahtamal. Faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian pedikulosis kapitis pada murid kelas II,IV,V dan VI SDN 019 Tebing Tinggi Okura kecamatan Rumani Pesisir Pekanbaru. JIK. 2010 Mar;4(1):65-9.

Hardiyanti NI, Kurniawan B, Mutiara H, Suwandi JF. Penatalaksanaan Pedikulosis kapitis. Majority. 2015 Des; 4(9): 47-52.

Canyon DV, Canyon C, Milani S. Characterizing the nature of human carriers of head lice. The Open Dermatology Journal. 2014; 8: 29-31

Allam NA, AL Megrin WA, Alkeridis LA. Faye Abdellah model to banishing social stigma of head lice among school students. Science Journal of Clinical Medicine. 2016 Feb; 5(1): 1-11

Tohit NFM, Rumpal L, Mun-Sann L. Prevalence and predictors of pediculosis capitis among primary school children in Hulu Langat, Selangor. Selangor Med J Malaysia. 2017 Feb; 72(1):12-17

Rassami W, Soonwera M. Epidemiology of pediculosis capitis among school children in the eastern area of Bangkok, Thailand. Asian Pasific Journal of Tropical Biomedicine. 2012 Nov; 2(11):901-904

Samsiah N, Astuti RDI, Rathomi HS. Hubungan derajat infestasi dan gejala gatal terhadap perilaku pengobatan Pediculosis capitis pada murid kelas I SDN Pelesiran kota Bandung. Prosiding pendidikan Dokter Spesia Unisba. 2017 Agust; 3(1)

Mumcuoglu KY, Gilead l, Ingber A. New insight pediculosis and scabies. Expert Review of Dermatology. 2009 Jun;4(3):285-302

Madke B, Khopkar U. Pediculosis capitis : an update. Indian Journal of Dermatology Venerology and Leprology. 2012 Jul;78(4): 429-438

Madeira NG, de Souza PAT, Diniz RES. Perception and action of teachers and head lice in school. Revista Electronica de Ensenanza de las Ciencias. 2015; 14(2): 119-130

Stichele RHV, Gysssels L, Bracke C, Meersschaut F, Blokland I, Wittouck E, et all. Wet combing for head lice : feasibility in masscreening, treatment preference and outcome. Journal of The Royal Society of Medicine. 2002 Jul; 95:348-352

Sangare AK, Doumbo OK, Raoult D. Management and treatment of human lice. Biomed research International. 2016. DOI 10.1155/2016/8962685

Verma P, Namdeo C. Treatment of pediculosis capitis. Indian J Dermatology [internet]. 2015 May-Jun [disitasi 2018 okt 2]; 60(3): 238–247. Tersedia dari : doi 10.4103/0019-5154.156339




DOI: https://doi.org/10.29313/jiks.v1i2.4692

Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.


ISSN: 2656-8438